loading...

Tentang Laman

Dalam kehidupannya manusia selalu dihadapkan pada masalah bagaimana dia dapat mengisi kehidupannya dengan bahagia sehingga dengan kondisi tersebut ia dapat mempertahankan hidupnya sendiri dan kehidupan anak turunnya dengan sejahtera.
Persoalan yang dihadapi dalam menjawab pertanyaan besar itu adalah sejauh mana manusia dapat membentuk dirinya sebagai creator yang produktif dalam berkomunikasi dengan alam sekitar dan masyarakatnya. Persoalan seperti bagaimana ia mengolah dan mendayagunakan alam sebagai sumber kehidupan menjadi bagian integral yang mutlak diperlukan. Demikian juga ketika manusia berhubungan dengan masyarakat sebagai mitra kerjasama dalam cita-cita kesejahteraannya merupakan elemen yang tidak mungkin ditinggalkan.
Berbagai perilaku, mekanisme, dan norma yang dilakukan manusia dalam membangun dan menciptakan kesejahteraan ekonominya tersebut membentuk suatu kecenderungan tertentu yang disebut sebagai sistem ekonomi. Sistem ekonomi sekelompok masyarakat atau manusia tertentu tidak sama dengan kelompok yang lain. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faham dan ideologi yang melatar belakanginya yang tercipta dalam masyarakat secara historis baik sengaja ataupun tidak disengaja.
Di era sekarang ini ada setidaknya3 jenis sistem ekonomi yang berkembang yaitu sosialis, kapitalis dan campuran ataupun gabungan kedua jenis sistem tersebut yang disebut negara kesejahteraan (welfare nation). Ketiga sistem itu dalam sejarahnya telah melakukan berbagai perombakan dan revisi pemikiran pandangan-pandangannya terhadap dunia. Namun dalam bentuk mereka yang baru sekarang, sistem-sistem tersebut tetap saja tidak dapat menyelesaikan masalah kesejahteraan manusia di dunia. Satu hal yang menyebabkan itu hanyalah karena filsafat materialisme yang menjadi patokan dan pandangannya yang bersifat sekulerisme.
Munculnya sistem ekonomi Islam merupakan sebuah pilihan yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan perekonomian yang ada. Sisten ini tentunya tidak mungkin sama dengan sistem-sistem materialisme yang telah disebutkan. Karena paradigm pemikiran dan pandangannya terhadap kehidupan manusia, dunia, atau serta norma-norma aturan sangat berbeda, walaupun dalam hal-hal tertentu bersifat partisial sama.
Sistem perekonomian Islam memiliki akar dalam syariat yang membentuk pandangan dunia sekaligus sasaran dan strategi (maqashid al-syariah) yang berbeda dari sistem sekuler. Sasaran yang dikehendaki Islam yang mendasar bukan material melainkan berdasar atas konsep-konsep Islam sendiri tentang kebahagiaan dan kesuksesan manusia (falah) dari kehidupan yang baik (hayah thayyibah) yang menekankan aspek persaudaraan (ukhuwwah), keadilan sosial ekonomi dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan spritual umat manusia.
Sistem perekonomian Islam menempatkan manusia sebagai khalifah (penguasa) bumi dan sekaligus menjadikannya mandataris bagi Allah untuk mengolah alam dan menjaga kelestariannya. Dari hal tersebut manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan-Nya. Dengan demikian konsekuensinya adalah perasaan kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketenangan manusia dicapai melalui pemenuhan terhadap kebutuhan material dan spiritual.
Sekarang saatnya kita menunjukkan bahwa muamalah syariah dengan filosofi utama kemitraan dan kebersamaan (sharing) dalam profit dan risk dapat mewujudkan kegiatan ekonomi yang lebih adil dan transparan. Dengan sistem perbankan syariah kita dapat menghilangkan negative spread dari dunia keperbankanan. Sebagaimana riba yang disepakati sebagai perbuatan yang dilarang dan pengambilan bunga uang telah memenuhi seluruh kriteria ketidakadilan riba.

No comments:

Post a Comment

KEPUTUSAN PERMOHONAN PEMBIAYAAN Mudharabah Bank Syariah

Manajer tidak akan lepas dari pengambilan keputusan. Pengmabilan keputusan pada dasarnya adalah memilih alternative yang terbaik dari ser...