a. Pengertian Akuntansi Syariah
Secara umum
menurut Komite Terminologi AICPA (The Committee on Terminology of the
American Institute of Certifies Public Accountants) mendefinisikan akuntansi
adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian
yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan
uang, dan penginterprestasian hasil proses tersebut.
Sedangkan pengertian akuntansi syariah menurut Muhammad, akuntansi syariah adalah akuntansi yang dikembangkan dan bukan hanya
dengan tambal sulam terhadap akuntansi konvensional, akan tetapi merupakan
pengembangan filosofis terhadap nilai-nilai Al-Qur’an yang dikeluarkan dalam
pemikiran teoritis dan teknis akuntansi.
Dengan demikian akuntansi syariah dapat diartikan sebagai
suatu teknik dari suatu pencatatan, penggolongan, pelaporan dan menganalisa
data keuangan yang dilakukan dengan cara tertentu dan ukuran moneter yang dapat
digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi perusahaan dengan menggunakan
aturan-aturan Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Berikut ini merupakan dasar hukum akuntansi dalam
Al-Qur’an:
1)
QS. Al-Baqarah [2]: 282
$ygr'¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) LäêZt#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4 =çGõ3uø9ur öNä3uZ÷/ 7=Ï?$2 ÉAôyèø9$$Î/ 4 ...
Artinya: “Hai, orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan
benar...”
b.
Fungsi dan
Tujuan Akuntansi Syariah
Adapun fungsi
dan tujuan akuntansi syariah adalah sebagai berikut:
1)
Menentukan hak
dan kewajiban pihak terkait termasuk hak dan kewajiban yang berasal dari
transaksi yang belum selesai dan atau kegiatan ekonomi lainnya sesuai dengan
prinsip syariah yang berlandaskan kepada konsep kejujuran, kebajikan dan
kepatuhan terhadap nilai-nilai bisnis yang Islami.
2)
Menyediakan
informasi keuangan yang bermanfaat bagi para pemakai laporan dalam pengambilan
keputusan.
3)
Mengamankan
aktiva dan kewajiban bank serta pihak lain secara memadai.
4)
Meningkatkan
kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.
c.
Perlakuan
Akuntansi Murabahah dalam PSAK No.
102 terhadap Pengakuan dan Pengukurannya
Standar
akuntansi tentang jual beli Murabahah mengacu pada PSAK No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah yang mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2008 yang menggantikan
PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah. PSAK No. 102 bertujuan
untuk mengatur pengakuan, pengukuran,
penyajian dan pengungkapan transaksi Murabahah, yang dapat
diterapkan untuk lembaga keuangan syariah seperti bank, asuransi, lembaga
pembiayaan, dana pensiun, koperasi, dan lainnya yang menjalankan transaksi Murabahah. Di samping
itu, PSAK No. 102 juga diterapkan oleh pihak-pihak yang melakukan transaksi Murabahah dengan
lembaga keuangan syariah tersebut.
Adapun PSAK
No. 102 mengatur mengenai pengakuan dan pengukuran akuntansi untuk penjual,
sebagai berikut:
1)
Pengakuan dan
pengukuran
Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya
kriteria pencatatan suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi
sehingga akan menjadi bagian yang melengkapi unsur-unsur laporan keuangan.
Pengakuan diwujudkan dalam pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan
keuangan yang terpengaruh oleh kejadian atau peristiwa terkait.
Sedangkan pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk
mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos
dalam laporan keuangan menggunakan nilai historis.
a) Pada saat perolehan, aset Murabahah diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan, jurnal yang
dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Aset Murabahah
|
xxx
|
|
|
Kas
|
|
xxx
|
i)
Untuk Murabahah pesanan
mengikat, pengukuran aset Murabahah setelah perolehan adalah dinilai
sebesar biaya perolehan dan jika terjadi penurunan nilai aset karena usang,
rusak atau kondisi lainnya sebelum diserahkan ke nasabah, penurunan nilai aset
tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aset. Jika terjadi penurunan
nilai untuk Murabahah pesanan mengikat, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Beban Penurunan Nilai
|
xxx
|
|
|
Aset Murabahah
|
|
xxx
|
ii)
Untuk Murabahah tanpa
pesanan atau Murabahah pesanan tidak mengikat maka aset
dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi,
dan dipilih mana yang lebih rendah. Apabila nilai bersih yang dapat direalisasi
lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
Jika terjadi penurunan nilai untuk Murabahah pesanan
tidak mengikat, jurnal yang
dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kerugian Penurunan
Nilai
|
xxx
|
|
|
Aset Murabahah
|
|
xxx
|
b) Apabila
terdapat diskon pada saat pembelian aset Murabahah, maka perlakuannya
adalah:
i)
Jika terjadi sebelum akad Murabahah akan
menjadi pengurang biaya perolehan aset Murabahah, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Aset Murabahah
|
xxx
|
|
|
Kas
|
|
xxx
|
ii)
Jika terjadi setelah akad Murabahah dan sesuai
akad yang disepakati menjadi hak pembeli, menjadi kewajiban kepada pembeli, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Utang
|
|
xxx
|
iii)
Jika terjadi setelah akad Murabahah dan sesuai
akad yang disepakati menjadi hak penjual, menjadi tambahan keuntungan Murabahah, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Keuntungan Murabahah
|
|
xxx
|
iv)
Jika terjadi setelah akad Murabahah dan tidak
diperjanjikan dalam akad, maka akan menjadi hak penjual dan diakui sebagai pendapatan
operasional lain, jurnal yang
dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Pendapatan Operasional Lain
|
|
xxx
|
c) Kewajiban
penjual kepada pembeli atas pengembalian diskon tersebut akan tereliminasi pada
saat:
i)
Dilakukan pembayaran kepada pembeli, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang
|
xxx
|
|
|
Kas
|
|
xxx
|
atau
ii)
Akan dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli
sudah tidak dapat dijangkau oleh penjual, jurnal
yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Utang
|
|
xxx
|
dan
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Dana Kebajikan – Kas
|
xxx
|
|
|
Dana Kebajikan - Potongan Pembelian
|
|
xxx
|
d) Pengakuan
keuntungan Murabahah
i)
Jika penjualan dilakukan secara tunai atau secara
tangguh sepanjang masa angsuran Murabahah tidak
melebihi satu periode laporan keuangan, maka keuntungan Murabahah diakui pada
saat terjadinya akad Murabahah, jurnal
yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Piutang Murabahah
|
xxx
|
|
|
Aset Murabahah
|
|
xxx
|
|
Keuntungan
|
|
xxx
|
ii) Namun
apabila angsuran lebih dari satu periode maka perlakuannya adalah:
(1)
Keuntungan diakui saat penyerahan aset Murabahah dengan
syarat apabila resiko penagihannya kecil, maka dicatat dengan cara yang sama
pada butir i) di atas.
(2)
Keuntungan diakui secara proporsional dengan besaran
kas yang berhasil ditagih dari piutang Murabahah, metode ini
digunakan untuk transaksi Murabahah tangguh di mana ada resiko piutang
yang tidak tertagih relatif besar dan/atau beban untuk mengelola dan menagih
piutang yang relatif besar, maka:
Pada saat
penjualan kredit dilakukan, jurnal yang
dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Piutang Murabahah
|
xxx
|
|
|
Aset Murabahah
|
|
xxx
|
|
Keuntungan Tangguhan
|
|
xxx
|
Pada saat penerimaan angsuran, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Piutang Murabahah
|
|
xxx
|
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Keuntungan Tangguhan
|
xxx
|
|
|
Keuntungan
|
|
xxx
|
Contoh pengakuan keuntungan secara
proporsional adalah jika perolehan aset Rp1.000,- dan keuntungan Rp250,- (20% dari harga jual),
maka:
|
Tahun
|
Angsuran
|
Harga Pokok
|
Keuntungan
|
|
1
|
500
|
480
|
120
|
|
2
|
400
|
320
|
80
|
|
3
|
250
|
200
|
50
|
(3)
Keuntungan diakui saat seluruh piutang Murabahah berhasil
ditagih, metode ini digunakan untuk transaksi Murabahah tangguh di
mana resiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar. Pencatatannya sama dengan poin (2), hanya saja jurnal
pengakuan kentungan dibuat saat seluruh piutang telah selesai ditagih.
e) Pada saat
akad Murabahah piutang
diakui sebesar biaya perolehan ditambah dengan keuntungan yang disepakati. Pada
akhir periode laporan keuangan, piutang Murabahah dinilai
sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi sama dengan akuntansi konvensional,
yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang. jurnal yang dibuat untuk penyisihan piutang tak tertagih sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Beban Piutang Tak
Tertagih
|
Xxx
|
|
|
Penyisihan Piutang Tak Tertagih
|
|
xxx
|
f) Potongan
pelunasan piutang Murabahah yang diberikan kepada pembeli yang
melunasi tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati diakui sebagai
pengurang keuntungan Murabahah,
maka:
i)
Jika potongan diberikan pada saat pelunasan, maka
dianggap sebagai pengurang keuntungan Murabahah, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
Xxx
|
|
|
Keuntungan
Ditangguhkan
|
Xxx
|
|
|
Piutang Murabahah
|
|
xxx
|
|
Keuntungan Murabahah
|
|
xxx
|
ii) Jika
potongan diberikan setelah pelunasan yaitu penjual menerima pelunasan piutang
dari pembeli dan kemudian membayarkan potongan pelunasannya kepada pembeli.
Pada saat
penerimaan piutang dari pembeli, jurnal
yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
Xxx
|
|
|
Keuntungan
Ditangguhkan
|
Xxx
|
|
|
Piutang Murabahah
|
|
xxx
|
|
Keuntungan Murabahah
|
|
xxx
|
Pada saat pengembalian kepada
pembeli, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Keuntungan Murabahah
|
xxx
|
|
|
Kas
|
|
xxx
|
g) Denda
dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan akad,
dan denda yang diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Dana Kebajikan - Kas
|
xxx
|
|
|
Dana Kebajikan - Denda
|
|
xxx
|
h) Pengakuan
dan pengakuran penerimaan uang muka
i)
Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar
jumlah yang diterima.
ii) Pada saat
barang jadi dibeli oleh pembeli maka uang muka diakui sebagai pembayaran piutang
(merupakan bagian pokok).
iii) Jika barang
batal dibeli oleh pembeli maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah
diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.
Jurnal yang
terkait dengan penerimaan uang muka:
(1)
Penerimaan uang muka dari pembeli, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas
|
xxx
|
|
|
Utang Lain - Uang Muka Murabahah
|
|
xxx
|
(2) Apabila Murabahah jadi
dilaksanakan, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang Lain - Uang Muka
Murabahah
|
xxx
|
|
|
Piutang Murabahah
|
|
xxx
|
(3)
Sehingga untuk penentuan margin keuntungan
didasarkan atas nilai piutang (harga jual kepada pembeli setelah dikurangi uang
muka).
(4)
Pesanan dibatalkan, jika uang muka yang dibayarkan
oleh calon pembeli lebih besar dari pada biaya yang telah dikeluarkan oleh
penjual dalam rangka memenuhi permintaan calon pembeli maka selisihnya dikembalikan
pada calon pembeli, jurnal yang dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang Lain - Uang Muka
Murabahah
|
xxx
|
|
|
Pendapatan Operasional
|
|
xxx
|
|
Kas
|
|
xxx
|
(5)
Pesanan dibatalkan, jika uang muka yang dibayarkan
oleh calon pembeli lebih kecil dari pada biaya yang telah dikeluarkan oleh
penjual dalam rangka memenuhi permintaan calon pembeli, maka penjual dapat
meminta pembeli untuk membayarkan kekurangannya dan pembeli membayarkan
kekurangannya, jurnal yang
dibuat sebagai berikut:
|
Rekening
|
Debet
|
Kredit
|
|
Kas/Piutang
|
xxx
|
|
|
Utang Lain - Uang Muka
Murabahah
|
xxx
|
|
|
Pendapatan Operasional
|
|
xxx
|
2)
Penyajian
Piutang Murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu
saldo piutang Murabahah
dikurangi penyisihan kerugian piutang.
3)
Pengungkapan
Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi Murabahah, tetapi
tidak terbatas pada:
a) Harga perolehan aset Murabahah.
b)
Janji pemesanan
dalam Murabahah berdasarkan
pesanan sebagai kewajiban atau bukan.
c)
Pengungkapan
yang diperlukan sesuai PSAK No. 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
No comments:
Post a Comment